tuntas sudah menonton 'loedroek' dengan lakon 'kartolo mblalelo'. mengagumkan antusias penonton yang sedemikian besar untuk mentertawakan diri. kartolo mbalelo menceritakan kejujuran rakyat kecil dalam menyikapi situasi jaman ini, khususnya indonesia yang kita cintai ini.
bagi yang sering mengikuti dunia ludruk dan lawak tradisionil, tentu nama cak kartolo, cak nurbuat dengan pasangannya ning rohana, cak lontong, cak sapari serta butet kartaradjasa dan sujiwo tejo sudah menjadi jaminan nilai jual tontonan komedi satire itu. apalagi ditamui oleh pramono anung dan mahfud em-de (md) semakin melengkapi arah tujuan dari alur cerita cak kartolo mbalelo.
kembali lagi soal penonton. tidak ada satu tempat duduk pun yang lowong alias 'fully' kapasitas yang ada. pementasan itu sendiri dibuka dengan pukulan gong untuk mengundang penonton masuk gedung disebabkan masih banyak penonton yang ada diluar karena mereka juga asyik menyaksikan atau mendadak kenal dengan para artis selebriti tanah air ini. termasuk aku sendiri sempat bersalaman dengan mbak titik puspa hehe ...
tepat waktu ! ini yang perlu diacungi jempol ! dibuka dengan pengantar oleh butet kartaradjasa yang tampil memberikan kata sambutan ala ludruk. butet tampil mengenakan busana jawa timuran ala pemain reog. tampilnya butet walau hanya sekian menit memberi pengantar memberi nuansa tersendiri. harus diakui nama butet memiliki karisma tersendiri, yaitu karisma 'gerrr...' sentilan-sentilun ala butet ini langsung disambut interaktif oleh penonton.
dialog dan parikan atau pantunan ala ludruk menjadi semacam renungan atau refleksi yang mengocok perut para penonton tertawa terpingkal-pingkal sekaligus menangisi diri. aku bilang, parikan itu tanpa basa-basi tanpa membuat sakit hati. 'paling enak numpak montor (mobil), paling enak numpak sepur ... paling enak dadhi koruptor, nek konangan ya ndek nag singapur ' itulah salah satu kehebatan ludruk ! belum lagi rumusan yang dilontarkan seperti : 'males itu dosa ... korupsi itu dosa, kalau males korupsi itu dosa besar !' ... haha
pementasan itu semakin menghentak dengan ditabuhi 'kuaetnika' plus djadug ferianto kakang mas nya butet. inul daratista menjadi 'insert' tersendiri, cuma sayangnya inul masih tampak canggung dalam lontar-sambut dialog-dialog khas ludrukan itu. tapi yoo wiss lah, namanya juga pemanis ... hehe
secara keseluruhan pentas komedi satire itu nyaris sempurna ! ... sang empunya kesempurnaan hanya Tuhan ! yoo thoo ... selamat hari minggu !