Selasa, 05 Juli 2011

suka cita ...

pagi ini aku membaca sebuah buku tentang 'inner healing' atau bahasa populernya penyembuhan luka batin. ada hal yang menarik dari salah satu bagian buku tersebut, yaitu manusia pada hakekatnya membutuhkan cinta, kedamaian dan sukacita.

tiba-tiba aku menjadi tertarik akan masalah sukacita itu. dikatakan bahwa sukacita itu berbeda dengan kegembiraan. gembira bisa berlangsung singkat. hari ini gembira atau senang, besok sudah sirna kegembiraan tersebut, sedangkan suka-cita itu menetap.

nah soal sukacita yang menetap ini menjadikan aku semakin tertarik untuk mempelajarinya, karena alangkah sulitnya manusia memampukan dirinya untuk tetap merasa 'bahagia' (baca : sukacita) tanpa harus terganggu dengan hal-hal luar atau eksternal.

kemudian dalam buku itu diberikan sebuah ilustrasi yang memudahkan untuk pembacanya membedakan antara kebahagiaan dan sukacita. dalam ilustrasi tersebut dilukiskan fransiskus dari asisi berjumpa dengan rekan sebiara, yakni saudara leo. leo bertanya kepada fransiskus : 'apa itu sukacita ?'. dijawab oleh fransiskus : 'nanti kamu akan mengerti sukacita itu seperti apa, marilah kita kembali ke biara ... !' tentunya jawaban fransiskus tersebut semakin membuat leo penasaran. malam pekat itu mereka berdua kembali ke biara. kedatangan mereka disambut oleh penjaga pintu biara dengan teguran yang membuat leo tersentak : 'siapakah kalian diluar ? ... kalian tentunya pasti perampok !'. tampaknya jawaban itu membuat leo marah bercampur kecewa ! saat itu pula fransiskus tersenyum dan berkata : 'saudara leo, sekarang tentunya engkau tahu perbedaan sukacita dengan kegembiraan ?'.
fransiskus menjelaskan kepada saudara leo secara tidak langsung bahwa sukacita itu selayaknya tidak tergantung kepada hal-hal luar yang berlawanan dengan kemauan hati kita. sukacita sejati tetap ada walaupun faktor eksternal yang mengganggu perasaan itu hadir. maka aku berhenti sejenak melanjutkan membaca buku tersebut untuk merenungkan bagaimana hal tersebut dapat dialami oleh manusia ? atau dengan kata lain, manusia semacam apa yang mampu mengendalikan perasaannya sedemikian luar biasa ?

hmm masih perlu belajar ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar